
Mandailing Natal, sebuah kabupaten Provinsi Sumatera Utara, terkenal dengan kekayaan budaya yang khas dan mendalam. Masyarakat Mandailing tidak hanya mempertahankan berbagai tradisi dan seni sebagai identitas lokal, tetapi juga menjadikannya sebagai aset budaya nasional yang berharga. Dalam beberapa waktu terakhir, upaya pelestarian tradisi di Mandailing Natal semakin mendapat perhatian, baik dari pemerintah daerah maupun komunitas masyarakat.
Festival Seni Budaya Mandailing Natal
Salah satu inisiatif penting dalam upaya pelestarian budaya adalah penyelenggaraan Festival Seni Budaya Mandailing Natal. Penyelenggara mengadakan acara ini pada Oktober 2024 di Pasar Baru Panyabungan dengan menghadirkan berbagai elemen masyarakat, termasuk Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Mandailing Natal. Perwakilan BPC HIPMI Madina, seperti Ketua OKK Tohir dan Ketua Bidang Infokom Doli Fadli Rangkuti, menyatakan apresiasi mereka terhadap festival ini. Mereka menekankan pentingnya acara semacam ini untuk mempererat seni dan budaya Mandailing, terutama di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.
Peran IKANAS dalam Pelestarian Budaya
Ketua Umum DPP Ikatan Keluarga Nasution (IKANAS) Dohot Anakboruna, H. Saipullah Nasution, juga menyoroti pentingnya menjaga dan melestarikan adat budaya Mandailing. Dalam sambutannya pada festival tersebut, Saipullah menekankan bahwa kekayaan tradisi Mandailing, seperti Gordang Sambilan dan tari Tor-Tor, harus lestari agar tidak diklaim oleh pihak lain. Beliau juga mengusulkan kerja sama antara IKANAS dan pemerintah daerah untuk mendaftarkan hak kekayaan intelektual budaya Mandailing ke pemerintah pusat, guna melindungi warisan budaya ini secara hukum.
Kekayaan Budaya Mandailing Natal
Mandailing Natal memiliki berbagai tradisi dan seni yang unik. Salah satunya adalah Gordang Sambilan, sebuah ensambel musik tradisional yang terdiri dari sembilan gendang besar dan sering digunakan dalam upacara adat. Selain itu, terdapat tradisi Lubuk Larangan, yaitu zona tertentu di sepanjang Sungai Batang Gadis yang dibuka dua kali setahun untuk kegiatan menangkap ikan. Konsep ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan desa tetapi juga sebagai upaya konservasi ikan langka seperti ikan merah.
Tantangan dalam Pelestarian Budaya
Meskipun memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, Mandailing Natal menghadapi tantangan dalam pelestariannya. Salah satunya adalah semakin jarangnya pengajaran bahasa Mandailing di sekolah-sekolah setempat. Saipullah Nasution mengungkapkan keprihatinannya bahwa pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA di Madina sudah jarang belajar bahasa Mandailing. Beliau menyarankan sekolah-sekolah tetap mengajarkan pelajaran bahasa daerah agar generasi muda mengenal dan melestarikan bahasa serta budaya mereka.
Upaya Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal bersama komunitas lokal terus berupaya dalam melestarikan tradisi daerah. Salah satu langkah nyata adalah menggelar perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1446 H di Masjid Agung Nur Ala Nur, Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan. Acara ini tidak hanya memperingati hari besar Islam tetapi juga menjadi ajang untuk memperkuat nilai-nilai budaya dan tradisi lokal.
Kesimpulan
Pelestarian budaya di Mandailing Natal memerlukan sinergi antara pemerintah, komunitas adat, dan masyarakat luas. Inisiatif seperti Festival Seni Budaya Mandailing Natal dan peran aktif organisasi seperti IKANAS menunjukkan komitmen dalam menjaga warisan budaya. Namun, Kita harus mengatasi tantangan seperti pengajaran bahasa daerah dan klaim budaya oleh pihak lain dengan strategi yang tepat. Dengan begitu, kita dapat terus mewariskan kekayaan tradisi Mandailing Natal kepada generasi mendatang dan menjaganya sebagai bagian integral dari identitas nasional Indonesia.