
Pada pagi hari Selasa, 18 Maret 2025, Mandailing Natal merasakan guncangan gempa bumi magnitudo 3,7. Gempa ini terjadi sekitar pukul 20:48 WIB, dengan lokasi pusat gempa 21 kilometer tenggara Tapanuli Utara. Bencana ini mengguncang dengan kedalaman yang dangkal, hanya 1 kilometer di bawah permukaan, menurut laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Penduduk di Pandan, Tapanuli Tengah, merasakan getaran gempa tersebut dengan cukup kuat, mencapai skala III-IV MMI (Modified Mercalli Intensity). Pada tingkat intensitas ini, getaran terasa secara nyata dalam rumah, objek ringan bergerak, dan jendela bergetar.
Meski tidak berpotensi tsunami, kejadian ini menuntut respons cepat dari pihak berwenang. Kementerian Sosial, bersama dengan pemerintah lokal, segera mengidentifikasi lokasi yang cocok untuk penampungan sementara bagi pengungsi. Bantuan logistik, termasuk obat-obatan dan makanan siap saji, juga segera mempersiapkan untuk didistribusikan ke daerah yang terkena dampak.
Syaifullah Yusuf, Menteri Sosial, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam. Menurutnya, pemerintah bekerja keras untuk memastikan bahwa semua kebutuhan dasar korban terpenuhi dengan cepat. Dia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti informasi terkini dari BMKG, guna meningkatkan keselamatan selama periode rawan bencana.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mandailing Natal langsung mengaktifkan tim reaksi cepat begitu informasi mengenai gempa terlapor oleh BMKG. Kepala BPBD Mandailing Natal, Rahmat Hidayat, mengungkapkan bahwa tim reaksi cepat telah melakukan pengecekan di beberapa lokasi terdampak guna memastikan tidak adanya korban jiwa maupun luka-luka akibat gempa tersebut.
Pendataan Kerusakan Infrastruktur
Selain itu, petugas juga segera melakukan pendataan terhadap kerusakan infrastruktur yang mungkin timbul akibat gempa. Hingga kini, laporan awal dari BPBD menyebutkan terdapat sejumlah rumah warga yang mengalami keretakan ringan di bagian dinding. Namun demikian, BPBD memastikan tidak ada bangunan yang mengalami kerusakan berat atau roboh.
Sebagai langkah antisipasi tambahan, pemerintah daerah Mandailing Natal bersama pihak terkait seperti Polres Mandailing Natal dan Kodim 0212/TS melakukan patroli keliling di wilayah yang terdampak gempa. Langkah ini bertujuan untuk memastikan kondisi masyarakat tetap tenang dan mencegah kepanikan yang tidak perlu. Tim patroli juga memberikan imbauan kepada masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap kemungkinan adanya gempa susulan.
Selain upaya penanganan fisik, perhatian juga jatuh pada aspek psikologis warga. Tim psikososial dari Kementerian Sosial terjun untuk membantu warga yang mengalami trauma atau ketakutan berlebihan pasca gempa. Mereka memberikan pendampingan, terutama kepada anak-anak dan kelompok rentan lainnya, guna memastikan kondisi psikologis warga tetap stabil selama masa pemulihan.
Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, turut memantau langsung perkembangan situasi melalui komunikasi intensif dengan pemerintah daerah. Ia menginstruksikan jajarannya agar berkoordinasi erat dengan BMKG untuk terus memantau aktivitas seismik di wilayah tersebut. Dalam pernyataannya, Gubernur Edy meminta agar masyarakat tidak panik namun tetap meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam serupa di masa mendatang.
Dukungan dari BNPB
Gempa ini juga menjadi perhatian khusus dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menyampaikan bahwa lembaganya siap memberikan bantuan tambahan jika dibutuhkan pemerintah daerah. BNPB juga mendorong penguatan edukasi mitigasi bencana bagi warga di wilayah rawan gempa.
Dalam beberapa tahun terakhir, Sumatera Utara memang dikenal sebagai wilayah yang rentan terhadap gempa bumi akibat aktivitas sesar atau patahan Sumatera yang melintas di beberapa wilayah. Oleh karena itu, pemerintah daerah setempat telah melakukan berbagai upaya mitigasi bencana seperti sosialisasi rutin kepada masyarakat, pelatihan evakuasi bencana, serta pengecekan infrastruktur secara berkala.
Para pakar geologi dari Universitas Sumatera Utara (USU) turut memberikan pandangan mereka terkait gempa tersebut. Mereka menjelaskan bahwa gempa dangkal dengan kedalaman hanya 1 kilometer seperti ini biasanya menghasilkan getaran yang lebih kuat di permukaan, meskipun magnitudonya relatif kecil. Oleh karena itu, penting untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konstruksi bangunan yang tahan gempa.
Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah setempat juga berencana meningkatkan fasilitas pendukung mitigasi seperti pembangunan posko bencana permanen dan pusat informasi kebencanaan yang dapat memberikan informasi secara cepat dan akurat kepada masyarakat. Hal ini diharapkan dapat mengurangi risiko bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan warga di masa depan.