Pemerintah Diminta Waspadai Modus Pengecer Borong BBM Satu Harga

Foto Liputan6

MNC Trijaya Mandailing Natal (Jakarta) - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai modus pedagang eceran (pengecer) yang memanfaatkan program Bahan Bakar Minyak (BBM) satu harga untuk mengeruk keuntungan besar.

 

Ketua Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, ‎program BBM satu harga di seluruh Indonesia akan menjadi tidak efisien, jika pasokan BBM yang baru tiba di lembaga penyalur resmi langsung habis diserbu pengecer.

"BBM satu harga ini enggak efektif juga di wilayah terdepan, terpencil dan terluar (3 T)," kata Tulus, di Jakarta, Kamis (23/11/2017).

Tulus mengaku, mendapatkan informasi langsung terkait stok BBM dari lembaga penyalur resmi, yang dijual dengan harga sesuai ketentuan pemerintah habis akibat diborong pengecer.

Kondisi ini membuat masyarakat tetap membeli BBM melalui pengecer, dengan harga yang mahal. ‎"Menurut saya yang dapet info ketika di drop di SPBU diborong habis,‎ akhirnya harganya tetap mahal," ungkap Tulus.

Menurut Tulus, kondisi ini perlu diwaspadai pemerintah, dengan meningkatkan pengawasan terhadap penyaluran BBM satu harga. Pasalnya, jika dibiarkan akan membuat program yang bertujuan untuk memberikan keadilan tersebut tidak efektif.

"Sayang juga uang yang sudah dikeluarkan Pertamina Rp 800 miliar tidak menolong juga. Karena di SPBU habis, akhirnya beli yang dijual pengecer juga, akhirnya tidak dijual satu harga juga," tutup Tulus.(Liputan6)