Ancam Negara-negara Pro-Palestina, AS Lakukan Pelacuran Diplomatik

Presiden Amerika Serikat Donald John Trump (kanan) bersama Menteri Luar Negeri Rex Tillerson. Foto/REUTERS/Jonathan Ernst

 

 

 

MNC Trijaya Mandailing Natal (WASHINGTON) - Tindakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan memotong bantuan kepada negara-negara pendukung resolusi soal Yerusalem di Majelis Umum PBB dikritik keras mantan pejabat CIA. AS dianggap melakukan “pelacuran diplomatik” dengan mengancam negara-negara pro-Palestina tersebut.

Kritik pedas itu dilontarkan Phil Mudd, mantan direktur Pusat Kontra Teroris CIA.

“Kami memberi tahu orang-orang, 'Kecuali jika Anda memilih dengan kami, kami tidak akan memberi Anda uang. Dan jika hati Anda tidak setuju dengan kebijakan Amerika, kami tidak akan mendukung Anda dalam hal bantuan AS’,” sindir Mudd kepada CNN,mengacu pada ancaman Presiden AS.

Ancaman finansial itulah yang dinilai Mudd sebagai "pelacuran diplomatik".

Dalam voting di Majelis Umum PBB, 128:9 suara menyatakan bahwa keputusan AS untuk mengakui Kota Suci Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel batal demi hukum.

Ancaman Presiden Trump kepada negara-negara pendukung resolusi disampaikan di hadapan kabinetnya menjelang voting Majelis Umum PBB. ”Untuk semua negara ini, mereka mengambil uang kita dan kemudian memberikan suara melawan kita. Mereka mengambil ratusan juta dolar, bahkan miliaran dolar dan kemudian mereka menentang kita,” katanya.

”Kami melihat suara itu. Biarkan mereka memilih melawan kita. Kita akan menghemat banyak. Kami tidak peduli,” kata Trump.

Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley menggemakan sentimen itu di PBB sesaat menjelang pemungutan suara. Menurutnya, AS akan mengingat negara-negara yang memilih ”ya” dalam resolusi yang melawan Amerika.

Dia mencatat bahwa AS adalah satu-satunya penyumbang terbesar ke badan dunia.  Menurut data Badan Pembangunan Internasional AS, pada tahun 2016, AS menyumbang sekitar USD13 miliar untuk bantuan ekonomi dan militer ke negara-negara di Afrika Sub-Sahara, dan USD1,6 miliar ke negara-negara di Asia Timur dan Oceania.

Mudd mengatakan, hubungan antarnegara tak sekadar soal bantuan. ”Ingat, ini bukan hanya tentang bantuan,” ucapanya dengan mencontohkan hubungan AS-Mesir. “Mesir memilih ‘ya’,” lanjut dia, mengacu pada pilihan Mesir yang mendukung resolusi.

“Salah satu alasan bahwa presiden telah mengembangkan hubungan dengan Presiden Sisi dari Mesir adalah bahwa dia sangat agresif terhadap ISIS yang beroperasi di Mesir. Apa menurut Anda, (Trump) akan menghubungi via telepon dan mengatakan; karena satu suara yang tidak mengikat di PBB, kami akan menurunkan kemitraan kami dengan Anda saat Anda membunuh mitra ISIS di Mesir?,” kata Mudd.

Mudd melanjutkan bahwa dia tidak yakin akan ada pembalasan terhadap Mesir atau kepada 127 negara lainnya yang memberikan suara "ya" dalam voting di Majelis Umum PBB.

”Amerika tidak akan melakukannya, dan presiden tidak akan mendukungnya,” katanya.

Namun, pakar PBB di Dewan Hubungan Luar Negeri Eropa mengatakan kepada The Independent bahwa AS mungkin saja menjalankan ancamannya. 

“Melakukan beberapa pemotongan bantuan token, namun jika (Trump) benar-benar mengurangi bantuan ke sejumlah negara, dia hanya akan melemahkan pengaruh AS lebih jauh,” ujarnya, yang dikutip Sabtu (23/12/2017).

 

Sumber : Sindo News

Editor     : Bakty